Kamis, 12 November 2009 | 21:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus HIV/AIDS terus meningkat dan masih sulit dikendalikan. Hal itu dikemukakan Deputi Sekretaris Bidang Pengembangan Program Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Kemal Siregar dalam jumpa pers sosialisasi Peringatan Hari AIDS Se-Dunia yang diselenggarakan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Kamis (12/11).Deputi Sekretaris Bidang Pengembangan Program Komisi Penanggulang an AIDS Nasional (KPAN), Kemal Siregar mengatakan, prevalensi HIV sebesar 0,18 persen dari populasi, tetapi epidemi HIV yang bersifat multidimensi sudah meningkat sampai pada tingkat terkonsentrasi yakni prevalensi HIV sudah melebihi 5 persen pada populasi kunci yang rawan tertular HIV yakni perempuan pekerja seks pengguna narkoba suntik, warga binaan lembaga pemasyarakatan, lelaki seks dengan lelaki.
Jumlah kasus AIDS sendiri, berdasarkan data Departemen Kesehatan, meningkat selama lima tahun terakhir. Kasus meningkat delapan kali lipat yakni dari 2.684 kasus pada tahun 2004 menjadi 17.699 kasus pada pertengahan 2009.
Sekretaris Jenderal IAKMI, Syahrul Aminullah mengatakan, peningkatan epidemi demikian akan menyebabkan beban sosial dan ekonomi. "Oleh karena itu, dibutuhkan komitmen politik yang kuat untuk menahan kasus laju HIV/AIDS, termasuk kegiatan promotif dan preventif. Ini untuk menyelamatkan generasi penerus," ujarnya.
Kecenderungan
Kemal mengatakan, salah satu kecenderungan epidemi HIV/AIDS ke depan ialah peningkatan jumlah infeksi baru pada seluruh kelompok lelaki berhubungan seks dengan lelaki. Prevalensi HIV/AIDS di kalangan LSL mencapai 5,2 persen berdasarkan Hasil Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku tahun 2007 dan diproyeksikan terus meningkat. Diperkirakan jumlah gay, waria dan LSL sekitar 700.000 orang.
Kemal mengatakan, dibandingkan dengan prevelansi di kalangan perempuan pekerja seksual secara langsung (10,4 persen), waria (24,4 persen), dan pengguna narkoba suntik (52,4 persen) memang lebih kecil. Namun, kelompok tersebut bersi fat tertutup sehingga cakupan program kurang maksimal yakni hanya 9 persen dan rawan meningkat.
Sedangkan, di populasi kunci lain seperti di pengguna narkoba suntik sudah mencapai 30 persen dan pekerja seksual sekitar 50 persen. Padahal, idealnya cakupan program mencapai 80 persen sehingga masih terdapat kesenjangan besar. Terlebih lagi, cara berhubungan seksual lelaki dengan lelaki berisiko besar terhadap infeksi HIV/AIDS karena peluang terjadinya perlukaan juga lebih besar.
"Untuk mengantisipasi peningkatan kasus di kalangan kunci LSL tidak mudah karena mereka cenderung tertutup sehingga intervensinya melalui aktifis dari kalangan mereka sendiri," ujarnya. Untuk meningkatkan cakupan LSL yang masih rendah itu, ke depan direncanakan program komprehsif. Program tersebut dirumuskan dan diselenggarakan secara aktif melibatkan populasi tersebut.
INE
Editor: made

0 komentar:
Posting Komentar